Sejarah Pusdakota
Pusat Pemberdayaan Komunitas Perkotaan (PUSDAKOTA) Universitas Surabaya secara resmi didirikan pada tanggal 2 November 2000. Pusdakota merupakan sebuah lembaga nirlaba yang berbasis pada gerakan nilai. Sejak didirikan PUSDAKOTA-UBAYA melakukan pengorganisasian di Kampung Rungkut Lor, sebuah komunitas perkotaan di wilayah area perindustrian terbesar di Surabaya.
Penduduk Kampung Rungkut mayoritas merupakan warga yang datang dari daerah pedesaan di Jawa Timur dan bekerja sebagai buruh di beberapa perusahaan di Surabaya. Pada tahun 1980, ketika Pemerintah Kota Surabaya mengembangkan Rungkut sebagai kawasan industri banyak warga daerah yang berpindah ke Surabaya dengan alasan ekonomi. Situasi ini telah membuat Kampung Rungkut menjadi tempat yang cukup padat dimana para warganya banyak tinggal di kamar kos-kosan. Ditambah lagi, lingkungan Kampung Rungkut tidak cukup tertata dengan baik sehingga banjir selalu datang setiap tahun.
Berangkat dari situasi tersebut, pada tahun 1999 beberapa mahasiswa Universitas Surabaya melakukan sebuah riset untuk menemukan persoalan yang muncul di Kampung Rungkut. Dari riset tersebut ditemukan salah satu persoalan komunitas, dimana komunitas tidak memiliki kesadaran tentang lingkungan. Oleh karena itu berdasar data yang telah diperoleh, mereka mengusulkan kepada Universitas Surabaya untuk membangun sebuah lembaga yang peduli pada perbaikan kondisi lingkungan dan sekaligus perbaikan karakter di komunitas Kampung Rungkut Lor.
PUSDAKOTA dibangun sebagai sebuah lembaga yang diharapkan dapat menggali potensi-potensi di masyarakat. Pusdakota yang lahir lewat SK Rektor Universitas Surabaya No.598/2000 "dikelilingi" masyarakat penghasil sampah, tepatnya komunitas RT 10 RW VI (kini RT 4 RW XIV) Rungkut Lor Kelurahan Kalirungkut. Mulanya PUSDAKOTA mengorganisir komunitas untuk mengelola lingkungannya dengan memisahkan sampah rumah tangga. PUSDAKOTA menemukan dan menyadari bahwa dalam proses menggali potensi masyarakat, tidak sekedar menjawabnya dengan pembuatan program dan implementasi teknologi, melainkan didasari oleh perubahan paradigma dan karakter komunitas itu sendiri. Hal itulah yang mendasari PUSDAKOTA untuk menciptakan ujung tombak pengorganisasian komunitas terdiri dari tiga bidang yaitu Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan. Ketiga bidang ini menjadi satu mata rantai yang saling memperkuat.
Sejak tahun 2000, PUSDAKOTA telah melakukan asistensi terhadap Komunitas RT.4 RW.XIV Kampung Rungkut Lor Surabaya untuk menjadi sebuah model pengelolaan lingkungan terpadu. Pusdakota juga membangun sebuah model rumah kompos untuk mengolah sampah dari komunitas menjadi kompos.
PUSDAKOTA juga mengembangkan beberapa program guna mewujudkan visi dan misinya. PEKA (Program Pengembangan Karakter Anak), KASIH (Keluarga Sehat Inklusif dan Harmonis), WARAS (Kewirausahaan Sosial), KAMI (Keuangan Mikro), PELITA (Pengelolaan Lingkungan Terpadu), PERNIK (Pertanian Organik), KESAN (Kesehatan Sanitasi), Perpustakaan Komunitas, dan Layanan Pelatihan Pembelajaran Partisipatif INSPIRE (Institute of Participatory Learning).
|
 |
|
Selanjutnya, pada tahun 2004, PUSDAKOTA melakukan sebuah penelitian bekerjasama dengan Kitakyushu International Techno-Cooperative Association (KITA) Jepang dan menghasilkan sebuah metode sederhana pengelolaan sampah rumah tangga yang disebut Takakura Home Method (THM). Hingga tahun 2010, terdapat 27.400 keluarga yang telah memanfaatkan THM, dan mengaktualisasikan kepeduliannya terhadap lingkungan dengan bertindak nyata di rumah tangga masing-masing. Selain itu PUSDAKOTA mendorong perubahan lingkungan komunitas dengan memfasilitasi perwujudan kampung ramah lingkungan. Komunitas merencanakan, mengorganisir, melakukan, dan mengembangkan kemitraan secara mandiri lewat kampung ramah lingkungan yang diciptakannya.
Dalam menjalankan programnya, PUSDAKOTA bekerja sama dengan berbagai pihak, baik dari sektor swasta, pemerintah, LSM dan komunitas. Aktivitas yang dikerjasamakan antara lain; konsultasi, penelitian, pelatihan kader dan sebagainya. Selama ini PUSDAKOTA juga telah menjadi tempat belajar bagi para relawan luar negeri antara lain dari; Finlandia, Perancis, Spanyol, dan Jepang guna berbagi pengalaman bersama.
|