Kunjungan Badan Arsip & Perpustakaan Kota Surabaya

Dalam rangka merealisasi target berdirinya 150 taman bacaan binaan pada tahun 2010 ini, Badan Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya melakukan outsourcing 151 calon pustakawan yang kedepannya akan mengelola taman-taman bacaan tersebut. Salah satu aktivitas untuk menginisiasi program tersebut adalah berkunjung ke beberapa taman bacaan dan mitra kerja Badan Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya. Perpustakaan Pelangi Pusdakota adalah salah satu mitra kerja yang dikunjungi.  Kunjungan studi ini dilakukan pada hari Kamis, 14 Januari 2010 melibatkan 35 orang partisipan dan 2 orang pendamping. Partisipan antusias bertanya pada Novita Sari selaku pengelola Perpustakaan Pelangi Pusdakota. Pertanyaan yang diajukan mulai dari mengenai sejarah berdirinya Pusdakota, hal-hal administratif pengelolaan koleksi pustaka, hingga layanan berupa kegiatan yang dilakukan oleh perpustakaan untuk menarik minat pengunjung. Seorang dari partisipan merasa senang, ia mengatakan pada Novita Sari bahwa hari ini kesempatan baginya dapat belajar banyak hal, selain itu ia menjadi tahu beberapa hal-hal baru. Bahkan diantara mereka mengusulkan agar adik-adik yang berkunjung ke perpustakaan selain membaca buku, juga belajar menanam dan mengolah sampah.


Kunjungan Kelompok Pemulung & Tukang Becak Mitra Komunitas LAKPESDAM NU - Jombang

Sabtu, 16 Januari 2010, sebanyak 15 orang rombongan dari Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdatul Ulama (Lakpesdam NU) – Jombang berkunjung ke Pusdakota. Tujuan dari kunjungan ini adalah untuk belajar mengenai pengelolaan lingkungan kampung Rungkut Lor. Kelompok yang terdiri dari 6 orang pendamping, 3 ibu berprofesi sebagai pemulung dan 6 orang bapak berprofesi tukang becak itu diajak berkeliling kampung ramah lingkungan di RT 03 RW XIV Rungkut Lor. “Kami ingin kampung kami menjadi hijau seperti di RT 03 RW XIV itu, Mbak”, ungkap Pak Syaiful, salah seorang peserta rombongan. Kaum pemulung pun terinspirasi untuk tidak sekedar mencari barang – barang bekas saja. Mereka ingin mencoba mengkreasi barang bekas menjadi barang yang layak jual. Rombongan kunjungan ini pun juga terinspirasi melakukan kerjasama untuk pengelolaan lingkungan, khususnya antara pemulung dan kader lingkungan.
Dalam  kunjungan ini juga dilakukan sharing tentang program Keuangan Mikro (KAMI) dengan salah seorang anggotanya, bernama Titin. Bu Titin menceritakan perjuangannya dalam berwirausaha, selain itu ia mengatakan banyak keuntungan yang diperoleh dengan menjadi anggota KAMI. Selain mendapat modal usaha, ibu dua anak ini merasakan adanya kekeluargaan antar anggota. “Saya bisa menabung untuk pendidikan dan kesehatan tanpa khawatir uangnya dibawa lari”, ungkapnya. Puspitasari, selaku pengampu program juga menjelaskan tentang tujuan program Keuangan Mikro, memberdayakan para ibu rumah tangga melalui media wirausaha untuk peningkatan ekonomi keluarga. Sesi itu pun menjadi media tukar pengalaman, karena kelompok tukang becak dampingan Lakpesdam NU Jombang telah mendirikan koperasi.

Peserta kunjungan juga semakin diteguhkan agar tidak takut bermimpi. Untuk mewujudkan mimpi, diperlukan kerja keras, keyakinan, kekompakan, kesabaran dan saling mengingatkan sebagai satu tim. Refleksi itu disampaikan setelah pelaksanaan game glass move. Seluruh rangkaian kunjungan ini usai pukul 16.30 dan diakhiri dengan foto bersama.


Workshop Pengelolaan Sampah Rumah Tangga – Dosen Universitas Airlangga

Kepedulian terhadap lingkungan menjadi tanggung jawab semua pihak. Itulah yang mendorong para dosen di Departemen Bahasa Jepang, Universitas Airlangga, Surabaya bekerja sama dengan JICA dan Pusdakota. Melalui kegiatan arisan PKK di kampungnya, Bu Elsy Putri salah seorang dosen Sastra Jepang yang memotori dan menjadi tuan rumah kegiatan sosialisasi pengelolaan sampah rumah tangga. Sabtu itu, 9 Januari 2010 sebanyak 20 ibu-ibu datang untuk mengadakan arisan. Usai  arisan, Takeuchi, perwakilan dari JICA mulai mempresentasikan pengelolaan sampah yang dilakukan di Indonesia dan Jepang. Dalam penjelasannya, pria Jepang yang lancar berbahasa Indonesia itu menyarankan kepada ibu-ibu sebisa mungkin tidak ada makanan yang tersisa lalu menjadi sampah.  Selanjutnya Laila dan Nala, perwakilan dari Pusdakota mensosialisasikan pengelolaan sampah organik. Sosialisasi ini diawali dengan pertanyaan seputar sampah untuk mengingatkan kembali tentang jenis dan dampak yang ditimbulkan bila sampah tidak diolah. Lalu Laila menjelaskan tentang pengomposan sampah organik skala rumah tangga dengan Takakura Home Method (THM). Kaum perempuan yang sebagian besar sudah usia lanjut tersebut terlihat sangat antusias dalam mempraktekkan pengolahan sampah dengan metode yang sering disebut keranjang sakti itu. ”Mbak, apa keranjang ini tidak berbau kalau ditempatkan di dalam rumah?”, tanya salah satu ibu ketika fasilitator menjelaskan bahwa keranjang ini bisa ditempatkan di dalam rumah karena pengolahan dengan THM ini tidak menimbulkan bau. Di akhir acara, Bu Elsy membagikan dua keranjang sakti kepada ibu–ibu PKK untuk dilakukan pengolahan sampah organik skala rumah tangga.